Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengisyaratkan penguatan besar-besaran kekuatan udara Indonesia melalui akuisisi jet tempur canggih seperti Dassault Rafale dan KF-21 Boramae. Pernyataan strategis ini disampaikan di Hanggar Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (20/08/2026), menyusul keberhasilan perawatan mandiri pesawat Hercules C-130H oleh PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMF).
Visi "Membeli Sistem, Bukan Sekadar Alat" kini menjadi landasan utama Kementerian Pertahanan untuk memutus ketergantungan kronis pada industri pertahanan asing. Keberhasilan GMF dalam melakukan perawatan kelas berat (heavy maintenance) Hercules C-130H yang sebelumnya harus dilakukan oleh Lockheed Martin di Amerika Serikat menjadi bukti empiris bahwa kapabilitas industri domestik telah meningkat signifikan.
Strategi ini akan diterapkan pada seluruh armada baru, termasuk 42 unit jet tempur Rafale asal Prancis yang kontraknya telah diteken secara bertahap.
Investigasi terhadap arah kebijakan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya mengejar kuantitas alutsista, tetapi juga kedaulatan teknologi. Proyek jet tempur generasi 4.5, KF-21 Boramae hasil kerja sama dengan Korea Selatan, juga diproyeksikan akan menjalani pemeliharaan mesin dan sistem oleh tenaga ahli dalam negeri.
Langkah ini krusial untuk menjamin tingkat kesiapan tempur (combat readiness) TNI AU agar tidak terhambat oleh birokrasi logistik internasional maupun potensi embargo di masa depan.
Meski Menhan belum merinci jadwal pasti pengiriman seluruh armada baru tersebut, integrasi ekosistem perawatan nasional diprediksi akan memberikan dampak ekonomi positif dan penghematan devisa negara yang besar.
Dengan beralihnya porsi pemeliharaan ke industri lokal, Indonesia sedang membangun fondasi pertahanan yang resilien. Jika konsistensi ini terjaga, dalam satu dekade ke depan, Indonesia berpotensi memiliki kekuatan udara paling mandiri di Asia Tenggara yang sepenuhnya didukung oleh inovasi putra-putri terbaik bangsa.
